valentine
Ada yang sedikit sakral saban tanggal 14 Febuari, bagi muda-mudi dewasa ini, siapa sih yang gak kenal dengan Valentine’s day? Yup betul mereka –yang merayakan- mendaulat Valentine days sebagai hari kasih sayang, walaupun dalam kamus bahasa manapun kita gak akan nemuin arti Valentine’s day sebagai hari kasih sayang.
· Terus dari mana atuh valentine day nyambungnya dengan hari kasih sayang.?
· Dari mana akarnya perayaan Valentine-an?
JAWABANYA:
· Salah satu sejarah populer mengungkapkan valentine’s day merupakan sebuah perayaan untuk menghormati kematian seorang pendeta kristen yang beragama Nasrani Santo Valentino, pendeta tersebut mempunyai anjuran kepada muda-mudi untuk kawin muda dan ia juga melindungi orang-orang yang lagi kasmaran (pacaran).
Setelah kematian pendeta Santo Valentino, saban tahun tepat tanggal 14 Febuari, banyak para pengikutnya dan orang-orang yang sedih karena kematiannya memperingati hari kematiannya. Setiap tahun bergulir akhirnya berubahlah perayaan peringatan itu menjadi perayaan sakral yang bernama Valentine’s day
· Dari mana akarnya perayaan Valentine-an yang dirayainn oleh orang-orang barat sana, ko bisa sampai ke sini dan masyarakat indonesiapun ikut ngerayainnya?
Jawabannya adalah arus globalisasi. globalisasi adalah upaya pengglobalan atau penyatuan segala aspek kehidupan sehingga menjadi sama dan seragam tanpa ada perbedaan.
Begitu juga dengan Valentine’s day merupakan “buah tangan” dari globalisasi, seiring arus globalisasi yang semakin deras, yang mana media-media menjadi tunggangannya. Segala kebudayaan barat, mau yang baik ataupun yang tidak baik dengan mudah sekali masuk ke Indonesia dan diterima bahkan diikuti oleh masyarakat Indonesia
Karena pengaruh yang luar biasanya globalisasi itu Nicholas Negroponte dan Kenichi Ohmae menulis bahwa pengaruh dari globalisasi dimana bentuk negara kebangsaan akan “menguap” dan digantikan oleh sebuah negara ‘cyber’ internasional.
Dampak Negatif Meraykan “Valentine’s day”
Di antara para ulama zaman sekarang yang telah menjelaskan dampak negatif merayakan Valentine’s day adalah Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin. Adapun dampak negatif dan penyebab merayakan hari Valentine itu tidak boleh ialah alasan berikut:
- Valentine’s day merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya dalam syari’at Islam.
- Merayakan Valentine’s day dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para shalafush shalih (para pendahulu kita dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in) – semoga Allah meridhai mereka. Maka tidak hal melakukan hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan gemar ikut-ikutan.
- Di antara dampak buruk lain bagi orang yang ikut serta merayakan Valentine’s day adalah ikut mempopulerkn ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam.
- Dampak buruk lainnya, bahwa dengan merayakan Valentine’s day berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung, dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap raka’at sholatnya telah membaca ayat (artinya): “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)
Prom Night
Sobat, ga ada catatan yang jelas soal asal muasal Prom Night. Acara ini udah dimulai sejak abad 20, sekitar tahun 1920 di beberapa kota kecil di Amrik. Prom ini dibikin oleh masyarakat setempat sebagai ajang mempertemukan cewek dan cowok yang beranjak dewasa. Ada statemen yang njelasin kalo prom night tuh momen terpenting kedua setelah perayaan Valentine’s Day.
Budaya kapitalis yang udah jadi lauk pauk kita seharĂ-hari, bikin cepet penyebaran momen prom night. Walau masih dibalut budaya ketimuran.
Akibat yang timbul :
· Sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap para remaja menunjukan kecenderungan revolusi perilaku remaja .
· hadir budaya mesum yang banyak menggoda remaja untuk jadi pemuja syahwat.
· Banyaknya media remaja yang getol menyajikan budaya Barat semakin mendekatkan remaja pada kehidupan serba boleh (permissif ) alias bebas berbuat selama nggak ganggu orang lain.
· pria hilang keperjakaannya pada usia 18 tahun dan wanita hilang keperawanannya pada usia 19 tahun.
· perilaku anak cewek yang doyan mengekspos daya tarik seksualnya, cara berpikir mayoritas remaja yang beorientasi seks, hingga ’perjuangan’ untuk melepaskan keperjakaan atau keperawanan saat prom night.
Kesimpulan:
Masuknya budaya luar lewat hiburan, bikin remaja kian bebas dalam berpacaran.
Berdasarkan penelitiannya, perilaku remaja laki-laki menjadi jauh lebih agresif dibandingkan dengan remaja perempuan. Mereka tak hanya terbiasa dengan ciuman bibir, tapi sudah berani melakukan hal-hal yang lebih jauh, mulai dari meraba dada, hingga akhirnya melakukan seks pranikah.

